Ratusan karya kartunis Semarang akan dipamerkan di Belgia

Budaya

Hiburan / Budaya 16 Views comments

Semarang, (ANTARA Information) - Kartunis senior Semarang Jitet Kustana akan meramaikan panggung seni Eropa dengan memamerkan ratusan karya-karyanya di Belgia, pada 27 Januari-14 April 2019.

"Sebuah kehormatan bagi saya bisa pameran di European Cartoon Middle (ECC) Kruishoutem, Belgia," kata Jitet di Semarang, Rabu.

Pendiri Gold Pencil Indonesia itu akan bertolak ke Kruishoutem, Belgia, pada 24 Januari mendatang untuk pembukaan pameran karyanya tersebut.

Sebagai pusat kartun di Eropa yang dibuka pada 2007, ECC menjadi tempat yang digadang sebagai surga bagi kartun, rumah bagi kartunis, dan penggemar kartun.

Selain menggelar kontes dua tahunan Euro Kartoenale, ECC juga membuka ruang untuk pameran tunggal, kuliah, dan kegiatan yang relevan dengan seni kartun.

Sosok pria kelahiran four Januari 1967 itu menceritakan undangan berpameran di Belgia berawal dari kiriman surat elektronik yang diterimanya dari pengelola ECC.

Melalui surat elektronik tersebut, pengelola ECC meminta Jitet untuk mengirimkan sejumlah karyanya karena mereka berminat untuk memamerkannya.

"Surat elektronik saya terima sekitar Oktober 2018. ECC minta 130 karya, dan aku kirimkan 147 karya," kata Jitet.

Jitet mengungkapkan sebagian besar karyanya yang akan dipamerkan di Eropa nantinya merupakan karya yang pernah memperoleh penghargaan internasional.

Sampai saat ini, Jitet telah mengantongi kurang lebih 180 penghargaan kartun tingkat internasional, yang terbaru dinobatkan sebagai kartunis terbaik 2018 versi Cartoon Residence Community Worldwide yang berbasis di Norwegia.

Pada pameran di Belgia nanti, Jitet bakal berduet dengan kartunis asal Portugal, Cristina Sampaio.

Selain memamerkan karya-karya kartun terbaiknya, Jitet dalam lawatan ke Belgia kali ini juga bakal terlibat dalam penjurian even kartun Euro Kartoenale yang mengangkat tema "The Wall".

Baca juga: Kartunis asal Semarang juarai lomba internasional di Turki

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar